Sunday, March 1, 2009

LEMURIA JAYA,INDONESIA JAYA

"Ada banyak versi tentang Atlantis, Edgar Cayce bilang
bahwa Lemuria itu nama benuanya, dan Atlantis itu nama
negaranya (diperkirakan eksis 24.000 - 10.000 SM.)
Negara Atlantis itu terbagi dalam beberapa daerah
atau pulau atau kalau sekarang istilahnya mungkin
provinsi atau negara bagian. Daerah kekuasaan
Atlantis terbentang dari sebelah barat Amerika
sekarang sampai ke Indonesia. Atlantis menurut
para ahli terkena bencana alam besar paling
sedikit 3 kali sehingga menenggelamkan negara itu.
Jadi, kemungkinan besar Atlantis itu tenggelam
tidak sekaligus, tetapi perlahan-lahan, dan
terakhir yang meluluh lantakkan negara itu terjadi
sekitar tahun 10.000 SM. Pada masa itu es di kutub
mencair dan menenggelamkan negara itu.
Terjadi banjir besar yang dahsyat, dan penduduk
Atlantis pun mengungsi ke dataran-dataran yang
lebih tinggi yang tidak tenggelam oleh bencana
tersebut. Itulah sebabnya di beberapa kebudayaan
mulai dari timur sampai barat, terdapat mitos-mitos
yang sejenis dengan kisah perahu Nabi Nuh.
Kemungkinan besar karena memang mereka
berasal dari satu kebudayaan dan tempat yang
sama. Mereka mengungsi ke daerah yang
sekarang kita kenal dengan Amerika, India,
Eropa, Australia, Cina, dan Timur Tengah.
Mereka membawa ilmu pengetahuan-teknologi dan
kebudayaan Atlantis ke daerah yang baru."

Di kalangan para Spiritualis, termasuk Madame
Blavitszki -- pendiri Teosofi -- yang mengklaim
bahwa ajarannya berasal dari seorang "bijak"
berasal dari benua Lemuria di India, Atlantis ini
lebih dikenal dengan nama benuanya, yaitu
Lemuria. Di dalam kebudayaan Lemuria,
spiritualitasnya didasari oleh sifat feminin,
atau mereka lebih memuja para dewi sebagai
simbol energi feminin, ketimbang memuja
para dewa sebagai simbol energi maskulin.
Hal ini cocok dengan spiritulitas di Indonesia
yang pada dasarnya memuja dewi atau energi
feminin, seperti Dwi Sri dan Nyi Roro Kidul
(di Jawa) atau Bunda Kanduang (di Sumatera
Barat, Bunda Kanduang dianggap sebagai
simbol dari nilai-nilai moral dan Ketuhanan).
Bahkan di Aceh pada masa lalu yang dikenal
sebagai Serambi Mekkah pernah dipimpin 4 kali
oleh Sultana (raja perempuan) sebelum masuk
pengaruh kebudayaan dari Arab Saudi yang
sangat maskulin. Sebelum itu di kerajaan
Kalingga, di daerah Jawa Barat sekarang,
pernah dipimpin oleh Ratu Sima yang terkenal
sangat bijak dan adil. Di dalam kebudayaan
lain, kita sangat jarang mendengar bahwa
penguasa tertinggi (baik spiritual atau
politik adalah perempuan), kecuali
di daerah yang sekarang disebut sebagai
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah masa Atlantis (Lemuria) ada 5 ras
yang berkuasa, yaitu: kulit kuning,
merah, coklat, hitam, dan pucat. Pada
masa itu kebudayaan yang menonjol
adalah kulit merah, jadi kemungkinan
besar kebudayaan Indian/Aztec/Maya
juga berasal dari Atlantis.
Tetapi, kemudian kebudayaan itu
terkebelakang dan selanjutnya kebudayaan
kulit hitam/coklat di India yang mulai
menguasai dunia. Inilah kemungkinan
besar jaman kejayaan yang kemudian dikenal
menjadi Epos Ramayana (7000 tahun lalu)
dan Epos Mahabarata (5000 tahun lalu).
Tetapi, kemudian kebudayaan ini pun hancur
setelah terjadi perang Baratayuda yang
amat dahsyat itu, kemungkinan perang itu
menggunakan teknologi laser dan nuklir
(sisa radiasi nuklir di daerah yang diduga
sebagai padang Kurusetra sampai saat
ini masih bisa dideteksi cukup kuat).
Selanjutnya, kebudayaan itu mulai
menyebar ke mesir, mesopotamia (timur
tengah), cina, hingga ke masa sekarang.
Kemungkinan besar setelah perang
Baratayuda yang meluluhlantakkan
peradaban di dunia waktu itu,
ilmu pengetahuan dan teknologi (baik
spiritual maupun material) tak lagi
disebarkan secara luas, tetapi tersimpan
hanya pada sebagian kecil kelompok
esoteris yang ada di Mesir, India Selatan,
Tibet, Cina, Indonesia (khususnya Jawa)
dan Yahudi. Ilmu Rahasia ini sering
disebut sebagai "Alkimia", yaitu ilmu
yang bisa mengubah tembaga menjadi
emas (ini hanyalah simbol yang
hendak mengungkapkan betapa
berharganya ilmu ini, namun juga
sangat berbahaya jika manusia
tidak mengimbanginya dengan
kebijakan spiritual)

Kelompok-kelompok Esoteris ini mulai
menyadari bahwa mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi
saja, tanpa mengembangkan kebajikan
spiritual, akan sangat berbahaya bagi
peradaban dunia. Itulah sebabnya
kelompok-kelompok Esoteris ini
memulai kerjanya dengan
mengembangkan ilmu spiritual
seperti tantra, yoga, dan meditasi
(tentu saja dengan berbagai versi)
untuk meningkatkan Kesadaran
dan menumbuhkan Kasih dalam
diri manusia. Ajaran-ajaran
spiritual inilah yang kemudian
menjadi dasar dari berbagai agama
di dunia. Sedangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi disimpan dahulu dan
hanya diajarkan kepada orang-orang
yang dianggap telah mampu
mengembangkan Kesadaran dan Kasih
dalam dirinya.Tetapi, manusia memang
mahluk paling ironik dari berbagai
spesies yang ada di bumi. Berabad
kemudian, ilmu spiritual ini justru
berkembang menjadi agama formal
yang bahkan menjadi kekuatan politik.
Agama justru berkembang menjadi
pusat konflik dan pertikaian di mana-
mana. Sungguh ironik, ilmu yang tadinya
dimaksudkan untuk mencegah konflik,
justru menjadi pusat konflik selama
berabad-abad. Tapi, itu bukan salah
dari agama, tetapi para pengikut ajaran
agama itulah yang tidak siap untuk
memasuki inti agama: spiritualitas.

Pada masa abad pertengahan di Eropa,
masa Aufklarung dan Renaissance,
kelompok-kelompok Esoteris ini mulai
bergerak lagi. Kali ini mereka mulai
menggunakan media yang satunya lagi
-- ilmu pengetahuan dan teknologi --
untuk mengantisipasi perkembangan
agama yang sudah cenderung menjadi
alat politis dan sumber konflik antar
bangsa dan peradaban. Ilmu pengetahuan
dan teknologi yang selama ini disimpan
mulai diajarkan secara lebih luas.
Kita mengenal tokoh-tokoh seperti
Leonardo Da Vinci, Dante Alegheri,
Copernicus, Galio Galilae, Bruno,
Leibniz, Honore de Balzac, Descartes,
Charles Darwin bahkan sampai ke Albert Einstein
T.S. Elliot, dan Carl Gustave Jung adalah
tokoh-tokoh ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni modern yang
berhubungan -- kalau tidak bisa dikatakan
dididik -- oleh kelompok-kelompok Esoteris
ini. Tetapi, sejarah ironik kembali
berkembang, kebudayaan dunia saat ini
menjadi sangat materialistis. Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang
seharusnya digunakan untuk
"menyamankan" kehidupan sehari-hari
manusia, sehingga manusia punya lebih
banyak waktu untuk mengembangkan
potensi spiritualitas di dalam dirinya,
justru menjadi sumber pertikaian dan
alat politik. Konflik terjadi di mana-mana.
Ribuan senjata nuklir yang kekuatannya
1000 kali lebih kuat dari bom yang dijatuhkan
di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945,
kini ada di bumi, dan dalam hitungan
detik siap meluluhlantakkan spesies
di bumi. Belum lagi eksploitasi secara
membabi buta terhadap alam yang
menyebabkan kerusakan lingkungan
dan pemanasan global di mana-mana.
Menurut para ahli, hutan di bumi saat ini
dalam jangka seratus tahun telah berkurang
secara drastis tinggal 15%. Ini punya dampak
pada peningkatan efek rumah kaca yang
menimbulkan pemanasan global, diperkirakan
kalau manusia tidak secara bijak bertindak
mengatasi kerusakan lingkungan ini, maka 30
sampai 50 tahun lagi, sebagian besar kota-kota
di dunia akan tenggelam, termasuk New York
City, Tokyo, Rio De Jenero, dan Jakarta.
Dan sejarah tenggelamnya negeri Atlantis
akan terulang kembali.

Jaman ini adalah jaman penentuan
bagi kebudayaan "Lemuria" atau "Atlantis"
yang ada di bumi. Pada saat ini dua
akar konflik, yaitu "agama" dan "materialisme"
telah bersekutu dan saling memanfaatkan
satu sama lain serta menyebarkan konflik
di muka bumi. Agama menjadi cenderung
dogmatik, formalistik, fanatik, dan anti-human
persis seperti perkembangan agama di Eropa
dan timur tengah sebelum masa Aufklarung.
Esensi agama, yaitu spiritualitas yang
bertujuan untuk mengembangkan Kesadaran
dan Kasih dalam diri manusia, malah dihujat
sebagai ajaran sesat, bid'ah, syirik, dll.
Agama justru bersekutu kembali dengan
pusat-pusat kekuasaan politik, terbukti
pada saat ini begitu banyak "partai-partai agama"
yang berkuasa di berbagai negara, baik di negara
berkembang maupun di negara maju. Di sisi lain
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang berlandaskan pada paham materialisme
juga sudah terlanjur menguasai dunia.
Persekutuan antara kaum agama dan materialisme,
atau "agama-materialistik" ini mulai menggejala
di mana-mana, berwujud dalam bentuk-bentuk
teror yang mengancam dunia.

Sudah saatnya, para spiritualis di "Lemuria"
mulai bersatu kembali. Segala pertikaian
remeh temeh tentang materialisme-spiritualistik
atau spiritualisme-materialistik harus diselesaikan
sekarang. Tugas yang sangat penting tengah
menanti, bukan tugas prophetik, tetapi tugas
yang benar-benar menyangkut keberlangsungan
eksisteksi seluruh spesies di "Lemuria", di bumi
yang amat indah ini. Tugas ini tidak bisa
dikerjakan oleh satu dua orang Buddha atau Nabi
atau Wali atau Resi atau Avatar seperti pada
masa lalu. Tetapi, seluruh "manusia-biasa"
juga harus terlibat di dalam tugas ini.
Jika hipotesis Prof. Santos memang benar,
bahwa Atlantis pada masa lalu itu berada
di Indonesia, maka hal itu berarti kita yang
tinggal di sini punya tugas (karma) yang
penting. Ini bukan suatu kebetulan. Kita
yang tinggal di Indonesia harus bangkit kembali,
bangkit Kesadarannya, bangkit Kasihnya,
bangkit Sains dan Teknologinya untuk mengubah
jalannya sejarah Lemuria yang selama ini
sudah salah arah. Kejayaan masa lalu
bukan hanya untuk dikenang, atau dibanggakan,
tetapi harus menjadi "energi-penggerak" kita
untuk mengambil tanggung jawab dan tugas
demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan
peradaban Lemuria beserta seluruh spesies
yang ada di bumi ini. Seperti kata Bapak
Anand Krishna, dalam bukunya yang
bertajuk Indonesia Jaya, "Masa depanmu
jauh lebih indah dan jaya daripada
masa lalumu, wahai putra-putri Indonesia!"

Indonesia Bangkit! Lemuria Jaya!

No comments: